//
you're reading...
Joyful Teaching

Mengajar Harus Joyful

Pola pengajaran yang dingin, tanpa melibatkan emosi siswa, cenderung membosankan bagi siapapun yang ada di dalam kelas tersebut. Siswa yang memiliki motivasi tinggi sejak berangkat dari rumah akan terbawa ke dalam situasi yang kurang menyenangkan tersebut. Apalagi siswa yang memang sejak tadi malam merasa malas sekali untuk masuk sekolah mengingat pelajaran besok yang terasa berat dan guru yang kurang menyenangkan di dalam mengajar.

Guru yang memiliki persepsi bahwa mengajar sekedar menyampaikan kata tanpa makna atau sekedar memberi pemahaman tanpa harus melibatkan hati, cenderung akan mengabaikan kondisi siswa yang diajarnya. Yang ada dibenaknya hanya menyampaikan pelajaran dan setelah itu selesai tanggungjawabnya pada hari itu. Maka tidak heran jika ada guru yang cepat-cepat keluar begitu bel istirahat atau ganti pelajaran berbunyi, dan cepat-cepat pulang jika bel pulang sekolah bercenting.

Kabar buruknya, makin tidak adanya keterlibatan emosi dalam sebuah proses pembelajaran makin sulit terjadinya proses transfer ilmu dari guru ke siswa, makin lama proses belajar mengajar pada kelas tersebut. Jika hal ini terjadi, maka bisa dipastikan makin tidak efektif dan efisien proses belajar mengajar di dalam kelas tersebut. Guru yang pada awalnya ingin melakukan proses transfer ilmu secepat mungkin, agar terlepas dari tanggungjawabnya untuk menyampaikan pelajaran justru makin lama berada dalam proses tersebut.

Seseorang yang sejak awal menginginkan meninggalkan suatu keadaan secepat mungkin tapi justru harus bertahan karena proses yang diharapkannya cepat menjadi bertambah lambat akan mengalami tekanan secara mental. Tekanan ini akan menjadikannya makin sulit menemukan jalan alternatif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Jika hal ini terjadi hanya pada dirinya sendiri tekanan tersebut tidak begitu besar. Tapi, jika hal ini juga berimbas pada orang lain yang juga merasa tertekan, maka beban yang diterimanya bisa 2 sampai 3 kali lipat dari pada jika dia sendirian.

Guru yang tertekan karena susahnya memahamkan siswa akan mengalami tekanan yang besar dengan kondisi siswa yang jengkel dan stres karena tidak paham dengan ilmu yang disampaikan oleh guru tersebut.

Kondisi yang kurang menyenangkan tersebut akan menjadikan kelas penuh beban stress. Guru stress karena proses transfer ilmunya tidak semulus jalan tol, sementara siswa juga stress karena sulit memahami apa yang disampaikan guru. Siswa yang memang pada dasarnya tidak suka pada cara pengajaran guru yang dingin dan tidak mau tahu dengan permasalahan mereka justru makin membenci proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru tersebut. Jika kondisi ini makin buruk, maka bisa jadi proses belajar mengajar yang terjadi pada kelas tersebut sudah tidak bisa dilanjutkan lagi alias gagal.

Salah satu jalan keluar dari kondisi tersebut sebenarnya ada pada guru. Siswa pada posisi ini hanya bisa pasrah dan menunggu inisiatif dari guru. Maka, guru yang seharusnya mengambil tanggungjawab penuh untuk menjadikan kelas itu seperti rumah bagi para siswa, fell at home.

Kondisi kelas yang kurang kondisif tersebut bisa dirubah menjadi kelas yang penuh dengan semangat belajar jika gurunya juga semangat dalam menyampaikan pelajaran. Semangat dalam hal ini tidak sekedar mengajar dengan suara lantang atau gerakan tubuh yang berlebihan. Itu hanya salah satu penunjang. Yang paling penting adalah perasaan guru tersebut terhadap mata pelajaran yang disampaikannya. Jika dia meyakini bahwa yang disampaikannya akan membawa perubahan dalam kehidupan siswa yang diajarnya maka semangat itu akan menular ke hati para siswa. Siswa akan sangat tertarik dengan pelajaran tersebut.

Memulai pelajaran dengan hati yang gembira, menyapa siswa dengan ramah, menyambut awa pelajaran dengan senyuman, menepuk bahu siswa yang membutuhkan sentuhan kasih sayang orang tua dan membesarkan hati mereka, mengawali proses mengajar dengan suasana gembira, membuat siswa tertawa dengan sapaan yang lucu,  dan banyak teknik-teknik humanis lainnya akan membahagiakan siswa. Dan kabar baiknya, kita akan merasakan kebahagiaan karena memberikan kebahagiaan pada para siswa.

Itu semua tidak akan terjadi, jika kita para guru tidak memperbarui diri kita dari detik ke detik. Karena motivasi adalah target bergerak. Kita tidak akan pernah selamanya selalu termotivasi. Kitalah yang bertanggungjawab pada diri kita sendiri untuk menjadikan diri ini selalu termotivasi setiap pagi mau berangkat mengajar para calon pemimpin bangsa di kelas-kelas kita.

selain memperbarui diri dengan motivasi, kita juga harus selalu bercermin. Mencari apa yang disenangi orang lain dari diri kita. Karena kalau diri kita menarik bagi siapapun yang berhubungan dengan kita. Maka, kelas-kelas dimana kita mengajar akan menjadi kelas yang menarik dan joyful, menyenangkan bagi para siswa dengan menjadikan mereka merindukan saat-saat pelajaran bersama kita, Learning is Beautiful.

shareseriale tv

About schooltrainingcourses

SCHOOL Training Courses untuk siswa, TRAINING Outbound, TRAINING Indoor, School Training COURSES untuk guru, SCHOOL Training Courses untuk Orang Tua, program pelatihan untuk guru, pelatihan untuk siswa, pelatihan untuk orang tua, joyful teaching, joyful life and learning, spiritual motivationa, character building based on outbound training, TOT outbound training for teacher, Training of Trainer

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: